
Bangunkan Sahur Berujung Teror, Warga Cianjur Ditodong Petasan
Bangunkan Sahur Mendadak Berubah Mencekam Di Salah Satu Wilayah Di Kabupaten Cianjur. Aksi Sekelompok Orang Yang Berdalih membangunkan sahur justru berujung teror terhadap warga. Mereka diduga menodongkan petasan berukuran besar dan menyalakannya secara membabi buta hingga membuat warga ketakutan.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 WIB. Sejumlah warga awalnya mengira rombongan pemuda itu hanya melakukan tradisi membangunkan sahur seperti biasa, dengan berkeliling sambil menabuh alat musik atau pengeras suara. Namun suasana berubah ketika terdengar ledakan keras dari petasan yang di nyalakan sangat dekat dengan rumah penduduk.
Menurut keterangan saksi, kelompok tersebut berjumlah lebih dari sepuluh orang dan sebagian menggunakan sepeda motor. Mereka membawa petasan berukuran besar yang suaranya menggelegar, bahkan terasa hingga ke dalam rumah. Beberapa warga yang keluar untuk menegur justru mengaku mendapat perlakuan intimidatif.
Warga Resah Dan Trauma Di Bangunkan Sahur
Aksi tersebut menimbulkan keresahan di lingkungan sekitar. Beberapa orang tua mengaku anak-anak mereka mengalami trauma akibat suara ledakan yang sangat keras. Selain itu, pecahan sisa petasan di temukan berserakan di jalan dan halaman rumah warga.
“Ini bukan lagi tradisi membangunkan sahur, tapi sudah mengarah ke teror. Kami merasa terancam,” kata tokoh masyarakat setempat.
Sebagian warga juga menyayangkan kurangnya pengawasan terhadap penggunaan petasan berdaya ledak tinggi. Mereka menilai tindakan seperti itu berpotensi membahayakan keselamatan, terutama di kawasan permukiman padat penduduk.
Aparat Turun Tangan
Mendapat laporan dari masyarakat, aparat kepolisian setempat langsung melakukan patroli dan penelusuran. Petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa sisa petasan dan meminta keterangan dari beberapa saksi di lokasi kejadian.
Kapolsek setempat menyatakan bahwa pihaknya tidak akan mentoleransi tindakan yang mengganggu ketertiban umum, terlebih jika membahayakan keselamatan warga. “Kami sedang menyelidiki identitas pelaku. Jika terbukti melanggar hukum, tentu akan kami proses sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya.
Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi membangunkan sahur dengan cara-cara yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban. Tradisi yang seharusnya membawa semangat kebersamaan, kata dia, jangan sampai berubah menjadi tindakan yang merugikan orang lain.
Tradisi atau Pelanggaran?
Tradisi membangunkan sahur memang sudah lama di lakukan di berbagai daerah, termasuk di Cianjur. Biasanya warga, terutama para remaja, berkeliling kampung sambil membawa alat musik sederhana seperti kentongan atau beduk kecil. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan petasan kerap menimbulkan kontroversi.
Pakar sosial setempat menilai bahwa perubahan pola tradisi ini perlu menjadi perhatian bersama. “Ketika petasan digunakan dengan daya ledak tinggi dan tanpa kontrol, itu sudah bukan lagi tradisi, melainkan potensi pelanggaran hukum,” ujarnya. Penggunaan petasan yang tidak sesuai aturan dapat di jerat dengan pasal terkait bahan peledak atau gangguan ketertiban umum. Apalagi jika sampai menimbulkan korban atau kerusakan properti.
Harapan Warga
Pasca kejadian, warga berharap aparat dapat segera mengungkap pelaku dan memberikan efek jera. Mereka juga meminta adanya patroli rutin selama bulan Ramadan guna mencegah kejadian serupa terulang. Selain itu, tokoh agama dan masyarakat di imbau untuk turut memberikan edukasi kepada para remaja agar tetap menjaga etika dalam menjalankan tradisi. “Bangunkan sahur boleh saja, tapi jangan sampai meresahkan apalagi membahayakan,” ujar seorang ustaz di wilayah tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Tradisi yang baik seharusnya mempererat silaturahmi, bukan justru memicu ketakutan.